Sejarah ilmu pengetahuan mencatat bahwa dunia Islam pernah mencapai penguasaan yang gemilang di bidang sains, teknologi, dan filsafat di masa Dinasti Abbasiyah. Pada masa itu tradisi intelektual dan spirit pencarian serta pengembangan ilmu pengetahuan, yang diawali dengan translasi massif (Sekelompok gunung-gunung yang tinggi) atas karya-karya ilmiah para filsuf Yunani kuno tertancap kuat, tumbuh dan berkembang pesat.
Dunia Islam melahirkan sederet nama ilmuwan masyhur. Mereka itu seperti Al Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), Al Khawarizmi (matematika), Al Kindi (filsafat), Al Razi (kimia, kedokteran), Al Bitruji (astronomi), ibnu Haitsam (teknik, optik), ibnu Sina (kedokteran), ibnu Rusyd (filsafat), ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi), dan banyak lagi yang lain.
Sumbangan dunia Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tak terbantah. Bermula dari dunia Islamlah, ilmu pengetahuan mengalami transmisi, diseminasi, dan proliferasi ke dunia Barat, yang mendorong munculnya zaman pencerahan (renaissance) di Eropa. Melalui dunia Islam, Barat mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Umat Islam di masa lampau telah meletakkan ilmu pengetahuan pada posisi yang benar dan memandang sebagai pemilik yang sah. Pandangan ini mempunyai landasan yang kokoh yakni hadis nabi Muhammad saw, "Ilmu itu adalah harta (kearifan) yang hilang dari orang beriman, di mana pun dan kapan pun mereka menemukannya, mereka harus memungutnya kembali". Di dalam riwayat lain disebutkan: "Jika engkau menginginkan kebahagiaan dunia, maka carilah dengan ilmu. Jika kau mencari kebahagiaan akhirat, maka cari juga dengan ilmu."
Sedangkan landasan dari kitab suci juga tidak kurang banyaknya. Spirit umat Islam awal adalah wahyu pertama yang memerintahkan umat Islam agar membaca, membaca, dan membaca (QS 96: 1-3). Ayat tersebut dan hadis-hadis terdahulu yang memerintahkan pentingnya menuntut ilmu dan hendaknya jadi pelecut umat Islam agar kembali mencintai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Dorongan seperti ini tidak dimiliki oleh umat beragama apapun di dunia ini.
Untuk menguasai sains ada dua langkah utama yang harus dilakukan. Pertama sosialisasi bahwa sains adalah bagian dari islam dan diisaratkan berulang-ulang di dalam al-Qur’an serta telah dipraktekkan oleh generasi muslim awal. Kedua sosialisasi bahwa tidak ada jalan pintas bagi sains. Jalan sains adalah jalan panjang, terjal dan sunyi yang jauh dari hiruk-pikuk serta pola hidup glamour.
Dakwah dengan berceramah telah menjadi aktivitas harian di masyarakat kita. Sosialisasi sains bagian dari islam bisa disampaikan melalui ceramah-ceramah agama ini. Sekedar contoh ayat-ayat terkait dengan alam
Alam diciptakan dalam enam masa (QS 32:4)
Bumi diciptakan dalam dua masa (QS 41:9)
Penciptaan tujuh langit dalam dua masa (QS 41:12)
Awan dikirim ke bumi yang tandus (QS 32: 27)
Teknologi pembuatan baju besi dikuasi nabi Daud as (QS 34:10-11)
Rekayasa angin dan tembaga cair dikuasai nabi Sulaiman as (QS 34:12)
Sains dan rekayasa angin (QS 38:36; 41:16)
Dinamika udara dan awan (QS 35:9)
Pola air laut (QS 35:12)
Kesetimbangan langit dan bumi (QS 35:41)
Penciptaan pasangan materi-antimateri (QS 36:36, 42:11)
Dinamika benda langit (QS 36:38-40)
Perkapalan (QS 36:41-43; 42:33-34)
Relasi kapal laut dan gunung (QS 42:32)
Pola garis putih, merah dan hitam pekat di antara gunung (QS 35:27)
Materi-materi di langit, bumi dan antaranya (QS 42:12).
Api dari kayu hijau (QS 36:80)
Suluh api (QS 37:10)
Rahasia dan kekuatan petir (QS 41:13)
Fertilasi tanaman dan manusia (QS 41:47)
Tradisi sains adalah tradisi riset. Sedangkan tradisi riset akan melahirkan budaya mencipta dan memproduksi. Artinya, kemandirian material hanya bisa lahir dari budaya produksi dan menuntut penguasaan sains terlebih dulu. Tanpa tradisi riset dan produksi maka kita hanya akan mampu menjadi bangsa makelar yang bergantung kepada para bangsa produsen.
Permasalahan pengembangan sains islam Indonesia
umat Islam di Indonesia diakui sebagai pemeluk Islam yang moderat, sehingga sangat memungkinkan untuk mengembangkan pemikiran yang lebih bebas dan kreatif, peluang pemikiran yang bebas membuka kebuntuan pola piker dalam mengembangkan ayat-ayat qauliyah dan qauniyah, hal ini perlu dilakukan agar umat Islam bangkit dari kelemahan intelektual, tidak saatnya lagi bernostalgia dengan keberhasilan dan keunggulan intelektual Islam masa lalu, tetapi yang lebih pentig adalah bangkit dan berusaha menghidupkan kembali budaya meneliti yang pernah ditorehkan oleh saintis dan ilmuwan Islam masa lalu..
Sudah saatnya umat Islam kembali mengkaji ayat-qauliyah dan qauniyah, agar kejayaan masa lalu dapat diraih kembali, tetapi ada factor-faktor lain yang perlu segera dibenahi, di antaranya adalah memberi perhatian besar terhadap dunia pendidikan, karena dengan pendidikan umta Islam akan bangkit dari kebodohan dan keterpurukan. Perhatian terhadap pendidikan hendaknya mencakup kurikulum sarana dan parasarana, serta sumber daya manusianya. Dengan harapan nantinya dunia pendidikan mampu memberi pengajaran yang menyeluruh, baik pengkajian yang bersifat qauliyah maupun bersifat qauniyah, intinya ada keseimbangan antara pendidikan yang bersifat keislaman dengan pendidikan yang bersifat sains dan teknologi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ketertinggalan umat Islam dalam sains dan teknologi juga di akibatkan rendahnya penguasaan bahasa terutama bahasa Inggris, sebab sebagian besar literatur pengetahuan hampir delapan puluh persen berbahasa Inggris, kelemahan penguasaan bahasa menjadi penghambat kemajuan sains Islam, kenyataan ini tidak terbantahkan karena hampir di semua Negara Islam termasuk Indonesia bahasa Inggris masih belum banyak di kuasai, bahkan belum banyak dijadikan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, untuk itu agar umat Islam bangkit dalam bidang sains tentunya perlu menguasai bahasa Inggris dan kalau perlu bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar dalam dunia pendidikan kita.
Kemiskinan menjadi factor penghambat kemajuan sains dan teknologi, kemiskinan yang mendera mengakibatkan umat Islam Indonesia bergelut dalam kubangan kemiskinan, para intelektual Islam masih berkutat dalam pemecahan kemiskinan, tidak dipungkiri kemiskinan masih menjadi problem yang mendasar bangsa ini, menurut data dari Tim Indonesia Bangkit pada bulan Februari 2005 orang miskin di Indonesia 16 persen, kemudian pada Juli 2005 menjadi 18,7 persen, dan pada Maret menjadi 22 persen. Jangankan memikirkan masalah penelitian sains dan teknologi untuk memikirkan isi perut saja susah, maka untuk kembali bangkit dari keterpurukan sains dan teknologi tentunya juga perlu membenahi terlebih dahulu masalah kemiskinan, sebab kemiskinan akan membawa seseorang kepada kemiskinan yang lebih komplek.
Keadaan di atas, berakibat kepada pengabaian ilmuwan Indonesia, pengabaian ini diakibatkan belum adanya tempat bagi para ilmuwan untuk mengembangkan kariernya sesuai dengan keilmuwan yang dimilikinya, sehingga pada akhirnya ilmu yang didapatkan dari luar negeri menjadi tidak tersalurkan dengan baik, bahkan terkadang mereka lebih suka bekerja sebagai birokrat di lembaga pemerintahan, menurut mereka bekerja di birokrasi lebih menjanjikan daripada harus melakukan penelitian.
Budaya baca yang rendah juga menjadi factor kemunduran sains dan teknologi umat Islam, padahal ayat pertama yang di turunkan oleh Allah adalah perintah untuk membaca,”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah .Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(Qs. Al-Alaq: 1-5).
Dari ayat dapat dipahami bahwa untuk bangkit dari kebodohan dan keterpurukan di bidang keilmuan adakah dengan banyak membaca, membaca apa saja yang dapat dibaca, selain membaca kita juga disuruh oleh Allah untuk menuliskannya, artinya adalah mempublikasikan, ironisnya budaya baca yang diperintahkan oleh Allah banyak diabaikan, sehingga tidak heran kalau umat Islam lebih banyak menjadi umat penonton, umat yang hanya pandai berkomentar, tetapi tidak banyak mempunyai tradisi membaca, waktu lebih banyak untuk mernonton daripada untuk membaca, budaya baca yang sangat rendah berakibat kurangnya budaya riset, dan inilah cikal bakal kemunduran sains Islam, budaya baca yang rendah berakibat kepada kurangnya minat berfikir rumit, yang terjadi adalah sebaliknya, umat Islam lebih suka berfikir ringan, tidak suka bersulit-sulit, dalam menonton pun bangsa Indonesia lebih suka yang bersifat hiburan, tetapi masih sedikit yang menonton tayangan bersifat keilmuan dan teknologi.
Kebiasaan menonton menjadikan umat Islam Indonesia menjadi umat konsumen, umat yang terima bersih, terima beres tidak ingin susah kalau ada yang mudah, keadaan ini menjadikan umat Islam enggan untuk menemukan atau mengadakan penelitian sendiri, apalagi berfikir menjadi produsen, untuk itu perlu kesadaran umat Islam untuk membangkitkan budaya baca, sehingga lahir berbagai pemikiran, pikiran dan wawasan terbuka luas seluas alam ini. Berawal dari membacalah akan terbuka gerbang ilmu, pendidikan tanpa budaya membaca akan sia-sia, membaca tanpa penelitian akan kesulitan, sedangkan penelitian tanpa publikasi akan mati. Allahu A’lam
PENUTUP
Jembatan Suramadu dan lumpur Porong yang terkatung-katung juga merupakan akibat lemahnya penguasaan bangsa kita terhadap sains dan teknologi. Lumpur Porong yang berlarut-larut sesungguhnya mencerminkan aneka klaim hebat yang semu bangsa kita.
Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim dan menempati area seluas 8 juta kilometer persegi tidak bisa terus-menerus menyerahkan pengelelolaan aneka kekayaan alam yang melimpah kepada orang asing. Indonesia harus mandiri karenanya harus cerdas dan terampil khususnya dalam sains dan teknologi. Indonesia tidak boleh selamanya menjadi bangsa makelar dan kuli baik kuli di negeri orang apalagi kuli di negeri sendiri.
Kita harus bangkit, mandiri, berdaulat dan berdiri sejajar dengan negara-negara lain. Syarat untuk itu tidak lain adalah iman dan ilmu (QS 58:11). Kedaulatan dan harga diri harus ditopang dengan kekuatan baik spiritual maupun material. Iman yang benar akan mendorong pada penguasaan sains. Sebaliknya pengabaian sains sebenarnya refleksi iman yang salah dan kebahlulan modern.
Terakhir, meski tidak dianjurkan berperang tetapi kita harus kuat dan mampu mempertahankan diri dari serangan pihak lain termasuk dari kemungkinan serangan menggunakan peluru berhulu ledak nuklir. Aneka upaya diplomasi tetap akan tidak efektif bila kita lemah. Al-Qur’an surat al-Anfal ayat 60 menegaskan agar umat Islam mempersiapkan seluruh potensi dan kekuatan yang ada.
